Cerpen
Judul : Kita Dan Hujan ( Just One Part )
Karya : Tiar Khairatul
Ku kumpulkan segala rasa pada ujung jemari
Tak memberikan celah sedikitpun untuk membuang rasa yang tak pernah ku mengerti
Walau dirimu hanya bayang semu dalam setiap mimpiku
Hujan yang selalu setia menemaniku dalam khayal tentangmu
walau diriku membenci hujan dan dirimu yang menyukai hujan Namun kita sama-sama menyukai pelangi setelah hujan.
Gadis itu menatap rintik hujan lewat jendela kaca, mengamati setiap
inci tangisan alam. Seolah mencari kedamaian di dalamnya. Pikirannya
melayang entah kemana. Seorang pemuda yang selalu hadir dalam
fikirannya. Tak memberikan lubang untuk sedikit saja member rasa lain
dalam memori nya.
Drrrt drrrt drrt, benda mungil itu bergetar, membuyarkan lamunan gadis berparas ayu itu, di ambilnya benda itu
From: Rio –beloved-
To: shilla
Cantik, Jalan yuk, boring nih J
Sesaat kemudian senyum di bibirnya merekah indah ketika di layar
ponselnya tertera nama pemuda yang baru saja memenuhi otaknya. tunggu,
bukan baru saja tapi 7 bulan terakhir ini, keningnya membentuk kerutan
setelah membaca pesan dari kekasihnya itu itu ‘hey ini hujan, apa tidak
tau pemuda itu kalau dirinya ini membenci hujan Dan malah bukan dirinya
saja bahkan hampir semua orang membenci hujan’ begitu fikir gadis itu.
Sejurus kemudian ibu jarinya sudah menari-nari di atas layar touchnya
itu.
To: rio-beloved-
From: shilla
Nggak, ini hujan. Sebentar lagi pasti hujannya akan deras yo.
From: rio –beloved-
To: shilla
Ayolah shill, lagian hujan Cuma air J
Shilla semakin dongkol dengan pemuda itu lantaran pemuda yang bernama rio itu memaksanya, apa bagusnya hujan sih pikirnya.
To: rio -beloved-
From: shilla
Gak! nanti aja kalau pelanginya dah muncul dan itu kalau nanti kalau hujannya udah reda!
From: rio -beloved-
To: shilla
Ayolah shill, sekali ini aja. Apa salahnya nyoba, aku dah di depan rumah kamu, cepet keluar
Shilla, pasrah. Benar juga kata rio itu, sekali saja tidak apa-apa, ya
sekali saja. Pikirnya. Kemudian di ambilnya cardigan yang tersampir di
gantungan bajunya. Sejurus kemudian ia sudah berada di luar rumah dan
menemui sahabat sekaligus kekasihnya itu yang sekarang sudah bertengger
di mobil jaguarnya itu.
“mau kemana sih?” Tanya shilla, setelah
berada di dalam mobil rio. Sedangkan yang di Tanya hanya tersenyum
manis. Sedetik kemudian mobil itu telah membelah jalanan bersama hujan
—
Kau yang memaksaku mengenal hujan
Memaksaku menikmati dan menyukai hujan
Memaksaku untuk berteman dengan hujan Terus memaksa hingga aku luluh
—
“Shill, ayo turun” kata rio, masih fokus melepas sabuk pengaman yang di
pakainya tadi. Merasa tak ada jawaban dari gadis di sampinya itu. ia
menoleh, hampir saja ia tergelonjak ketika melihat gadisnya itu memeluk
kakinya sendiri dengan wajah menunduk yang tertutupi oleh rambutnya.
sepertinya gadis itu memang takut dengan hujan. di belainya lembut
rambut gadis itu. entahlah gadis itu dan dirinya –rio- tak pernah
mengerti kenapa hujan begitu menakutkan pada gadisnya itu. Padahal sudah
dari kecil rio menjadi sahabat gadis itu hingga saat ini –duduk di
bangku kelas XI- dan sekarang menjadi kekasihnya itu.
“shill”
panggil rio pelan dengan masih posisi seperti tadi. namun gadis itu
tetap bungkam. Akhirnya rio menyerah “maaf ya shil, ya udah kalau gitu
kita pulang aja ya” kemudian ia melepas tangannya dari puncak kepala
shilla.
Ketika mesin mobil rio menyala “ehmm, yo” akhirnya gadis itu
membuka mulutnya juga. walau wajahnya masih ada sisa air matanya. Rio
menoleh, menatapnya lembut “kenapa?” tanyanya lembut sambil megusap sisa
air mata pada gadisnya itu
“ayo kita turun” ucap shilla sembari
tersenyum “kamu beneran, mau turun?” Tanya rio khawatir, dan hanya di
jawab anggukan gadisnya itu. Walau sebenarnya gadis itu tak yakin.
Sejurus kemudian rio sudah berada di pintu samping kemudi dan membukanya
dengan menenteng panyung. Gadis itu dengan ragu menerima uluran tangan
dari dari kekasihnya. Tapi akhirnya tangan itu jatuh juga di atas tangan
rio
Tak butuh waktu lama mereka sudah berada di danau, tempat
favorit mereka. mereka duduk di bangku taman yang terlindung dari hujan.
Hening, hanya hujan yang bersuara kali ini.
“yo, mau kemana?” Tanya shilla akhirnya, ketika melihat rio melepas jeketnya kemudian beranjak, menembus hujan
“menikmati hujan” jawab rio, kemudian ia merentangkan tangannya, dan
wajah yang mengadah ke langit. Seperti mencari kedamaian dalam hujan,
dan seolah hujan adalah teman setianya. Setelah puas, ia menggeret
tangan shilla untuk bermain bersamanya bersama rintik hujan. walau
awalnya gadis itu menolak namun akhirnya dia menyerah, bukankah
tujuannya memamang ingin mencoba mengenal hujan?
Sepasang kekasih
itu berlari riang di bawah rinai hujan, biarlah keduanya menghabiskan
waktu terakhir mereka di sini. Tunggu ini bukan yang terakhir? entahlah
hanya tuhan yang tau.
Petir menggelegar dengan dasyatnya, membuat
gadis itu harus memeluk kekasih, disampingnya itu. Pencair tembaga itu
menatap tepat di manic mata bening gadis di hadapannya itu. di
dekatkannya wajahnya, aroma mint dari pemuda itu terasa hangat di
penciuman shilla, wajah pemuda itu semakin dekat menghapus jarak di
antara keduanya. dan cup. sebuah bibir mendarat mulus di kening shilla.
Ia merasakan panas di kedua pipinya takut-takut rio mengetahuinya, ia
menundukkan kepalanya, membiarkan anak rambutnya menghalangi wajah
cantiknya. “aku sayang kamu” ucap rio berbisik, dan membuat pipi
gadisnya itu semakin memanas. di angkatnya wajah gadisnya itu, membuat
gadisnya itu harus memperlihatkan semburat merah yang ada di kedua
pipinya, membuat pemuda itu tertawa geli “rio gak lucu!!” kata shilla
manja, sambil mengerucutkan bibirnya itu. Membuat rio semakin tertawa
melihat gadisnya itu. detik berikutnya cubitan dari tangan mungil
kekasihnya itu sudah mendarat di lengannya membuatnya meringis kesakitan
“aww, sakit sayang” kata rio sambil mencoba berlari menjauh “biarin,
apaan sayang-sayang, gak ada sayang-sayang” ucap shilla, semakin gencar
menyubit kekasihnya itu ketika pemuda di sampingnya itu memanggil
sayang. gelak tawa renyah mewarnai bahagia keduanya di tengah rinai
hujan.
“udah yo capek” ucap shilla sembari duduk secara asal di
depan danau, di ikuti rio kemudian duduk di sampingnya. “yo, liat deh
pelanginya cantik ya“ rio mengikuti arah jari telunjuk shilla sebagai
arah yang di maksud. “hujan gak seperti yang kamu bayangkankan shill”
kata rio tanpa menoleh dari pelangi. sedangkan shilla hanya memamerkan
senyumanya sembari menatap wajah tampan lawan bicaranya. menatap setiap
lekuk wajah kekasihnya itu, menikmati ciptaan sang kuasa yang begitu
mengagumkan. Entah kenapa saat ini ia ingin menghabiskan waktunya
bersama pemuda itu hanya bersama pemuda itu. saat ini.
Merasa di
perhatikan, ia menoleh ke arah gadisnya. sedangkan yang memperhatikan
masih tetap diam, menatapnya. “shill?” tak ad sahutan “sayang?” tetap
tak ada jawaban, rio tersenyum jahil. Ia mendekatkan wajahnya ke arah
gadisnya itu hingga memaksa sang gadis mencium aroma mint –lagi- yang
bercampur dengan aroma maskulin khas dari pemuda itu.
1 detik
2 detik
3 detik
4 detik
“RIIIOOOOO!!!” sedangkan yang di sebut namanya tergelonjak kaget sambil
mengusap kesal telinganya, namun masih mempertahankan stay cool nya
“aduh, shill biasa aja dong, kupingku bisa budeg nih” shilla semakin
gemas dengan kekasihnya itu “kamu tadi ngapain? kesempatan banget sih!
ah rese yo! ihhh orang lagi asyik —-” rio tersenyum geli ketika shilla
berhenti memarahinya “asik apa? liatin aku ya? haha, aku tahu aku tu
ganteng, pinter, cool, —” shilla segera memotongnya “issh, PD banget
sih, emang gak boleh ngeliatin pacarnya sendiri” ucap shilla jujur
“haha, tumben mau ngaku nona ashilla” rio semakin gencar menggoda
pacarnya itu. Sementara yang di goda malah menyandarkan kepalanya di
pundak kekasihnya. Membuat rio bingung namun ia membalasnya dengan
mendekapnya. “yo, kalau aku pergi kamu bakal sedih nggak?” rio
mengerutkan keningnya ketika mendengar pertanyaan yang di lontarkan
gadisnya “kamu gak boleh pergi, aku bakal sedih banget kalau kamu pergi
bahkan lebih sedih dari hujan” jawab rio “kamu suka sad ending yo?” rio
semakin bingung di buatnya. segera ia tepis semua pikiran negatifnya
“nggak, aku nggak suka sad ending, dan cerita tentang kita pasti happy
ending” shilla terdiam sejenak “aku sayang kamu rio” empat kata itu
membuat rio tersenyum manis –sekali- “aku juga shill”.
—
Semua pertanyaan telah terjawab
Semua yang di cari kini kita temukan
Semua yang di gali kini membuahkan hasil, Hasil yang telah ada sesuai rasa namun tidak untuk bahagia
—
7 hari sudah, pemuda itu menunggu gadisnya yang terbaring lemah tak
berdaya di ruangan bernuansa putih. Segala alat medis menempel pada
tubuh gadisnya. Di genggamnya erat tangan shilla berharap bisa
mentransfer energi yang dia punya, di usapnya lembut puncak kepala
gadisnya itu “kamu, mimpi apa sih shill, kok nggak bangun-bangun. Kamu
tega banget buat aku sedih. Oya kok ‘leukemia’ nya gak hadir di tubuh
aku aja ya shill, dia jahat ya shill buat pacar aku sakit” rio tersenyum
kecut “eh shill, 3 hari terakhir ini tiap sore hujan, tapi aku belum
main sama hujan. Pelanginya juga nggak ada shill, dia gak mau keluar
gara-gara kamu sakit. haha tuh gue jadi kayak cewek ya shill, air mataku
netes haha. bentar ya shill aku mau cerita sama hujan.” Ucapnya miris,
kemudian mengecup pelan kening kekasihnya.
Rio menelusuri jalan
setapak, mengikuti kemauan kakinya. Hujan yang masih tetap setia
menemaninya. petirpun juga ikut menyelimuti rasa resah dalam dirinya.
hanya gadis itu yang ada di fikirannya. ia tak menyadari dari arah
berlawanan ada truk yang berlaju kencang, seolah matanya di butakan,
seolah telinganya di tulikan. Seolah fikirannya mengabaikan apa yang ada
di sekitarnya.
BRRAAK
‘Shilla’ dan semuanya gelap.
Di sisi tempat lain, tangis mewarnai suasana yang ada, hujanpun masih tetap setia menemani sepasang kekasih dan tempat berbeda
TIIIIIIIIIIIIITTT
layar monitor, menampilkan garis lurus, menyatakan jiwanya sudah tak
ada di sini. Hanya ada raga. Yang mebuat setiap orang yang hadir
memproduksi hujan.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar