Minggu, 15 November 2015

Persahabatan di Tengah Hujan


Cerpen Karangan: ,
Lolos moderasi pada: 25 January 2015

Namaku adalah Tiara McRainne, aku mempunyai sahabat bernama Mutia. Mutia adalah anak yang pintar, dan berani. Arti hidup yang sebenarnya aku jalani ketika aku mulai bersahabat dengan Mutia. Aku dan Mutia mempunyai kalung hati yang menandakan persahabatan kami. Di kalung tersebut, tertulis kata “MUTIARA FOREVER”. Mutiara adalah gabungan dari nama kami, yaitu Mutia dan Tiara. Persahabatan kami selalu diganggu oleh “Two Angels”.
Ya, mereka adalah Jessica dan Claura, 2 orang perempuan yang bersahabat. Mereka memang lebih kaya, lebih putih, kulitnya pun lebih mulus dariku. Tapi, itu semua tak sebanding dengan sifat mereka yang terlalu sombong dengan apa yang telah mereka miliki. Mereka selalu menganggapku itu sebagai sampah yang tak pernah berguna. Hanya aku yang selalu dihina oleh Jessica dan Claura, karena aku adalah orang miskin.
Berbeda dengan Mutia yang mama dan papanya memiliki perusahaan yang terkenal. Tapi, Mutia sangat baik, dia selalu membelaku habis-habisan. Suatu hari, saat aku dan Mutia sedang bersekolah. Jessica dan Claura datang kepadaku. Memang, saat itu sedang istirahat, siswa diperbolehkan bermain, makan, membaca buku dan lainnya.
“Tiara! Kamu jangan dekat-dekat Mutia lagi tau! Mutia itu kaya, cantik, kulitnya mulus, lah… kamu? Kamu itu miskin! Udah deh… jauhin aja tuh Mutia! Kalau enggak, kamu pasti akan tau akibatnya dari kami!” kata Jessica mengancamku. Aku hanya menundukkan kepala. Tetapi, berbeda dengan Mutia, Mutia tidak terima aku dikatakan seperti itu langsung membela dengan berani.
“Kalian! Jangan sekali-kali mengancam dan mengejek Tiara seperti itu! Dia adalah manusia yang cantik dari luar maupun dalam! Daripada kalian, hatinya busuk!” kata Mutia membelaku. “Udah deh Mutia, kamu itu pantasnya jadi teman kami, bukan jadi teman dia!” kata Claura sambil menunjuk aku dengan ketus. “STOP! Sana pergi!” kata Mutia yang sudah tidak tahan lagi dengan “Two Angels”.
Jessica dan Claura pun pergi dengan marah. “Kamu tak apa kan Tiara? Maafkan mereka ya, kalau mereka selalu menghinamu,” kata Mutia ramah. “Aku tidak apa-apa Mutia” jawabku. Aku dan Mutia kembali ke kelas. Hari mulai siang, saatnya untuk pulang. Mutia sudah pulang oleh sopirnya. Aku mengayuh sepedaku dengan gontai. Di tengah perjalanan, terlihat mobil sebuah mobil menghampiri sepedaku. Mobil itu melaju kencang dan menyenggol sepedaku hingga terjatuh.
Kaki dan tanganku berdarah. Pintu mobil itu pun terbuka, keluarlah 2 anak perempuan yang sepertinya tidak asing lagi di mataku. Mereka adalah Jessica dan Claura! “Hei, anak kampung, jika kamu tidak menjauhi Mutia kamu akan mendapat balasan dari kami. Inilah salah satu balasan dari kami! Kalau masih saja kamu bersama Mutia, kami akan menghukummu lebih dari ini. Kalau perlu, kami akan menghukum Mutia juga! Tapi untuk Mutia akan lebih kejam! Kami tidak main-main!” ancam Jessica dilanjutkan oleh anggukan kepala Claura.
“Tapi…” kata-kataku terputus. “Tidak usah tapi-tapian! Kami tidak mau tau, kamu harus menjauhi Mutia!” ucap Claura ketus. Jessica dan Claura pun kembali masuk ke mobilnya dan pergi. Aku bangun, dan kembali mengayuh sepedaku menuju ke rumah. Aku langsung masuk ke kamarku sambil menangis. Maafkan aku Mutia, aku terpaksa harus menjauhimu supaya kamu tetap aman…, kataku dalam hati sambil menangis.
Ah… hari ini memang hari yang menyedihkan bagiku, Mutia yang selalu membelaku sekarang harus kujauhi? Aku tidak rela, tapi… ini demi Mutia! Aku tak mau Mutia dihukum oleh Jessica dan Claura! Keesokan hari yang mendung… “Tiara, sekarang kan istirahat kita ke perpustakaan yuk!” ajak Mutia. Aku hanya bisa pergi meninggalkan Mutia, karena sedari tadi aku dan Mutia diawasi oleh Two Angels. Aku berlari ke taman belakang sekolah sambil terus menitikkan air mata.
Aku menangis di bawah pohon rindang. “Maafkan aku Mutia…,” tangisku.
“Tiara! Kenapa kamu pergi dari aku? Maafkan aku kalau aku bersalah padamu,” kata Mutia yang ternyata sedari tadi mengikutiku. Aku kembali berlari… langit yang sedari tadi mendung, mulai menurunkan hujannya yang dingin… Di tengah hujan, aku berlari menghindar dari Mutia… Mutia pun terus mengejarku…
Di tengah hujan kami berlari saling mengejar. Hujan turun, makin deras. Namun, tiba-tiba… Mutia terjatuh dan mulutnya mengeluarkan darah. Tak lama ia tergeletak di tanah. Aku yang melihat kejadian itu langsung berlari ke arah Mutia. “Mutia, kamu kenapa?” kataku khawatir. “Maafkan aku Tiara… Aku telah lama punya penyakit yang tak ada obatnya… Jika aku terkena hujan sambil aku berlari… Kondisiku akan melemah…,” cerita Mutia.
“Maafkan aku juga Mutia telah menjauhi kamu…,” kataku. “Iya, gak apa-apa… Selamat tinggal Tiara… Semoga persahabatan kita selalu ada selamanya… Jaga dirimu baik-baik, Aku akan selalu ada di dalam hatimu Tiara… Terimakasih atas segalanya,” kata Mutia. “Jangan ngomong seperti itu, kamu pasti akan selalu ada bersamaku disini, di dunia ini!” kataku. “Tidak Tiara, waktunya sudah tiba… Selamat tinggal sahabatku…,” kata Mutia seraya memejamkan matanya.
“Tidak… tidak kita akan selalu disini di dunia ini Mutia…,” kataku. Mutia tak bergeming. “Mut.. Mut… MUTIA!!” teriakku. Hujan membasahi tubuhku dan Mutia yang telah tiada. Air mata berlinang tanpa henti. Semua murid dan para guru berdukacita atas kepergian Mutia.
Selamat tinggal sahabatku, engkau akan selalu ada dalam hatiku. Aku yakin, kamu akan selalu ada untukku disini, di sampingku. Selamat tinggal, semoga engkau senang ada disana…
Cerpen Karangan: Cornelia Krisna Wijaya dan Frida Dyah PP
Cerpen
Judul : Kita Dan Hujan ( Just One Part )
Karya : Tiar Khairatul
Ku kumpulkan segala rasa pada ujung jemari
Tak memberikan celah sedikitpun untuk membuang rasa yang tak pernah ku mengerti
Walau dirimu hanya bayang semu dalam setiap mimpiku
Hujan yang selalu setia menemaniku dalam khayal tentangmu
walau diriku membenci hujan dan dirimu yang menyukai hujan Namun kita sama-sama menyukai pelangi setelah hujan.
Gadis itu menatap rintik hujan lewat jendela kaca, mengamati setiap inci tangisan alam. Seolah mencari kedamaian di dalamnya. Pikirannya melayang entah kemana. Seorang pemuda yang selalu hadir dalam fikirannya. Tak memberikan lubang untuk sedikit saja member rasa lain dalam memori nya.
Drrrt drrrt drrt, benda mungil itu bergetar, membuyarkan lamunan gadis berparas ayu itu, di ambilnya benda itu
From: Rio –beloved-
To: shilla
Cantik, Jalan yuk, boring nih J
Sesaat kemudian senyum di bibirnya merekah indah ketika di layar ponselnya tertera nama pemuda yang baru saja memenuhi otaknya. tunggu, bukan baru saja tapi 7 bulan terakhir ini, keningnya membentuk kerutan setelah membaca pesan dari kekasihnya itu itu ‘hey ini hujan, apa tidak tau pemuda itu kalau dirinya ini membenci hujan Dan malah bukan dirinya saja bahkan hampir semua orang membenci hujan’ begitu fikir gadis itu. Sejurus kemudian ibu jarinya sudah menari-nari di atas layar touchnya itu.
To: rio-beloved-
From: shilla
Nggak, ini hujan. Sebentar lagi pasti hujannya akan deras yo.
From: rio –beloved-
To: shilla
Ayolah shill, lagian hujan Cuma air J
Shilla semakin dongkol dengan pemuda itu lantaran pemuda yang bernama rio itu memaksanya, apa bagusnya hujan sih pikirnya.
To: rio -beloved-
From: shilla
Gak! nanti aja kalau pelanginya dah muncul dan itu kalau nanti kalau hujannya udah reda!
From: rio -beloved-
To: shilla
Ayolah shill, sekali ini aja. Apa salahnya nyoba, aku dah di depan rumah kamu, cepet keluar
Shilla, pasrah. Benar juga kata rio itu, sekali saja tidak apa-apa, ya sekali saja. Pikirnya. Kemudian di ambilnya cardigan yang tersampir di gantungan bajunya. Sejurus kemudian ia sudah berada di luar rumah dan menemui sahabat sekaligus kekasihnya itu yang sekarang sudah bertengger di mobil jaguarnya itu.
“mau kemana sih?” Tanya shilla, setelah berada di dalam mobil rio. Sedangkan yang di Tanya hanya tersenyum manis. Sedetik kemudian mobil itu telah membelah jalanan bersama hujan

Kau yang memaksaku mengenal hujan
Memaksaku menikmati dan menyukai hujan
Memaksaku untuk berteman dengan hujan Terus memaksa hingga aku luluh

“Shill, ayo turun” kata rio, masih fokus melepas sabuk pengaman yang di pakainya tadi. Merasa tak ada jawaban dari gadis di sampinya itu. ia menoleh, hampir saja ia tergelonjak ketika melihat gadisnya itu memeluk kakinya sendiri dengan wajah menunduk yang tertutupi oleh rambutnya. sepertinya gadis itu memang takut dengan hujan. di belainya lembut rambut gadis itu. entahlah gadis itu dan dirinya –rio- tak pernah mengerti kenapa hujan begitu menakutkan pada gadisnya itu. Padahal sudah dari kecil rio menjadi sahabat gadis itu hingga saat ini –duduk di bangku kelas XI- dan sekarang menjadi kekasihnya itu.
“shill” panggil rio pelan dengan masih posisi seperti tadi. namun gadis itu tetap bungkam. Akhirnya rio menyerah “maaf ya shil, ya udah kalau gitu kita pulang aja ya” kemudian ia melepas tangannya dari puncak kepala shilla.
Ketika mesin mobil rio menyala “ehmm, yo” akhirnya gadis itu membuka mulutnya juga. walau wajahnya masih ada sisa air matanya. Rio menoleh, menatapnya lembut “kenapa?” tanyanya lembut sambil megusap sisa air mata pada gadisnya itu
“ayo kita turun” ucap shilla sembari tersenyum “kamu beneran, mau turun?” Tanya rio khawatir, dan hanya di jawab anggukan gadisnya itu. Walau sebenarnya gadis itu tak yakin. Sejurus kemudian rio sudah berada di pintu samping kemudi dan membukanya dengan menenteng panyung. Gadis itu dengan ragu menerima uluran tangan dari dari kekasihnya. Tapi akhirnya tangan itu jatuh juga di atas tangan rio
Tak butuh waktu lama mereka sudah berada di danau, tempat favorit mereka. mereka duduk di bangku taman yang terlindung dari hujan.
Hening, hanya hujan yang bersuara kali ini.
“yo, mau kemana?” Tanya shilla akhirnya, ketika melihat rio melepas jeketnya kemudian beranjak, menembus hujan
“menikmati hujan” jawab rio, kemudian ia merentangkan tangannya, dan wajah yang mengadah ke langit. Seperti mencari kedamaian dalam hujan, dan seolah hujan adalah teman setianya. Setelah puas, ia menggeret tangan shilla untuk bermain bersamanya bersama rintik hujan. walau awalnya gadis itu menolak namun akhirnya dia menyerah, bukankah tujuannya memamang ingin mencoba mengenal hujan?
Sepasang kekasih itu berlari riang di bawah rinai hujan, biarlah keduanya menghabiskan waktu terakhir mereka di sini. Tunggu ini bukan yang terakhir? entahlah hanya tuhan yang tau.
Petir menggelegar dengan dasyatnya, membuat gadis itu harus memeluk kekasih, disampingnya itu. Pencair tembaga itu menatap tepat di manic mata bening gadis di hadapannya itu. di dekatkannya wajahnya, aroma mint dari pemuda itu terasa hangat di penciuman shilla, wajah pemuda itu semakin dekat menghapus jarak di antara keduanya. dan cup. sebuah bibir mendarat mulus di kening shilla. Ia merasakan panas di kedua pipinya takut-takut rio mengetahuinya, ia menundukkan kepalanya, membiarkan anak rambutnya menghalangi wajah cantiknya. “aku sayang kamu” ucap rio berbisik, dan membuat pipi gadisnya itu semakin memanas. di angkatnya wajah gadisnya itu, membuat gadisnya itu harus memperlihatkan semburat merah yang ada di kedua pipinya, membuat pemuda itu tertawa geli “rio gak lucu!!” kata shilla manja, sambil mengerucutkan bibirnya itu. Membuat rio semakin tertawa melihat gadisnya itu. detik berikutnya cubitan dari tangan mungil kekasihnya itu sudah mendarat di lengannya membuatnya meringis kesakitan “aww, sakit sayang” kata rio sambil mencoba berlari menjauh “biarin, apaan sayang-sayang, gak ada sayang-sayang” ucap shilla, semakin gencar menyubit kekasihnya itu ketika pemuda di sampingnya itu memanggil sayang. gelak tawa renyah mewarnai bahagia keduanya di tengah rinai hujan.
“udah yo capek” ucap shilla sembari duduk secara asal di depan danau, di ikuti rio kemudian duduk di sampingnya. “yo, liat deh pelanginya cantik ya“ rio mengikuti arah jari telunjuk shilla sebagai arah yang di maksud. “hujan gak seperti yang kamu bayangkankan shill” kata rio tanpa menoleh dari pelangi. sedangkan shilla hanya memamerkan senyumanya sembari menatap wajah tampan lawan bicaranya. menatap setiap lekuk wajah kekasihnya itu, menikmati ciptaan sang kuasa yang begitu mengagumkan. Entah kenapa saat ini ia ingin menghabiskan waktunya bersama pemuda itu hanya bersama pemuda itu. saat ini.
Merasa di perhatikan, ia menoleh ke arah gadisnya. sedangkan yang memperhatikan masih tetap diam, menatapnya. “shill?” tak ad sahutan “sayang?” tetap tak ada jawaban, rio tersenyum jahil. Ia mendekatkan wajahnya ke arah gadisnya itu hingga memaksa sang gadis mencium aroma mint –lagi- yang bercampur dengan aroma maskulin khas dari pemuda itu.
1 detik
2 detik
3 detik
4 detik
“RIIIOOOOO!!!” sedangkan yang di sebut namanya tergelonjak kaget sambil mengusap kesal telinganya, namun masih mempertahankan stay cool nya “aduh, shill biasa aja dong, kupingku bisa budeg nih” shilla semakin gemas dengan kekasihnya itu “kamu tadi ngapain? kesempatan banget sih! ah rese yo! ihhh orang lagi asyik —-” rio tersenyum geli ketika shilla berhenti memarahinya “asik apa? liatin aku ya? haha, aku tahu aku tu ganteng, pinter, cool, —” shilla segera memotongnya “issh, PD banget sih, emang gak boleh ngeliatin pacarnya sendiri” ucap shilla jujur “haha, tumben mau ngaku nona ashilla” rio semakin gencar menggoda pacarnya itu. Sementara yang di goda malah menyandarkan kepalanya di pundak kekasihnya. Membuat rio bingung namun ia membalasnya dengan mendekapnya. “yo, kalau aku pergi kamu bakal sedih nggak?” rio mengerutkan keningnya ketika mendengar pertanyaan yang di lontarkan gadisnya “kamu gak boleh pergi, aku bakal sedih banget kalau kamu pergi bahkan lebih sedih dari hujan” jawab rio “kamu suka sad ending yo?” rio semakin bingung di buatnya. segera ia tepis semua pikiran negatifnya “nggak, aku nggak suka sad ending, dan cerita tentang kita pasti happy ending” shilla terdiam sejenak “aku sayang kamu rio” empat kata itu membuat rio tersenyum manis –sekali- “aku juga shill”.

Semua pertanyaan telah terjawab
Semua yang di cari kini kita temukan
Semua yang di gali kini membuahkan hasil, Hasil yang telah ada sesuai rasa namun tidak untuk bahagia

7 hari sudah, pemuda itu menunggu gadisnya yang terbaring lemah tak berdaya di ruangan bernuansa putih. Segala alat medis menempel pada tubuh gadisnya. Di genggamnya erat tangan shilla berharap bisa mentransfer energi yang dia punya, di usapnya lembut puncak kepala gadisnya itu “kamu, mimpi apa sih shill, kok nggak bangun-bangun. Kamu tega banget buat aku sedih. Oya kok ‘leukemia’ nya gak hadir di tubuh aku aja ya shill, dia jahat ya shill buat pacar aku sakit” rio tersenyum kecut “eh shill, 3 hari terakhir ini tiap sore hujan, tapi aku belum main sama hujan. Pelanginya juga nggak ada shill, dia gak mau keluar gara-gara kamu sakit. haha tuh gue jadi kayak cewek ya shill, air mataku netes haha. bentar ya shill aku mau cerita sama hujan.” Ucapnya miris, kemudian mengecup pelan kening kekasihnya.
Rio menelusuri jalan setapak, mengikuti kemauan kakinya. Hujan yang masih tetap setia menemaninya. petirpun juga ikut menyelimuti rasa resah dalam dirinya. hanya gadis itu yang ada di fikirannya. ia tak menyadari dari arah berlawanan ada truk yang berlaju kencang, seolah matanya di butakan, seolah telinganya di tulikan. Seolah fikirannya mengabaikan apa yang ada di sekitarnya.
BRRAAK
‘Shilla’ dan semuanya gelap.
Di sisi tempat lain, tangis mewarnai suasana yang ada, hujanpun masih tetap setia menemani sepasang kekasih dan tempat berbeda
TIIIIIIIIIIIIITTT
layar monitor, menampilkan garis lurus, menyatakan jiwanya sudah tak ada di sini. Hanya ada raga. Yang mebuat setiap orang yang hadir memproduksi hujan.
END
 Cerpen Sedih - Hujan dan Air Mata
                                                                      


Aku suka jika hujan turun. Karena aku selalu ingat, ketika hujan turun aku bisa menghabiskan waktu hingga dua jam hanya berdua denganmu saja.

Aku ingat, ketika hujan turun, kau selalu menunggu jemputanmu tiba, begitu juga denganku. Entah kenapa, jemputanku dan jemputanmu selalu datang paling akhir dibanding anak-anak lain.

Saat kita menunggu bersama, seringkali hujan turun. Aku tahu betul kebiasaanmu ketika hujan turun. Kau hampir selalu menengadahkan kedua tanganmu di bawah tetesan air dari atap sekolah. Lalu kau akan usil mencipratkannya padaku, dan jika aku membalasmu kau selalu saja ngambek.

Atau, kau selalu menyobek halaman tengah buku tulismu. Lalu melipat kertas itu hingga membentu perahu. Lalu kau menghanyutkannya pada selokan di depan kita. Kau terus menatap perahu itu berlayar hingga menghilang dari hadapan kita.

Aku suka jika hujan turun. Karena sering kali ketika kau mengerjakan tugas di rumahku yang hanya berjarak empat rumah dengan rumahmu, hujan sering kali turun, menghambat kepulanganmu. Saat itulah kau lebih banyak mengeluarkan suaramu dibanding saat di sekolah. Kau ceritakan segala hal padaku. Dan saat itulah aku semakin mengenal dirimu.

                                                                        ***

Juli 2015

Sejak setengah enam tadi matahari bermalas-malasan, hingga detik ini ia tak juga muncul. Kelabu, itu adalah warna yang mendominasi langit pagi ini.

Aku masih berdiri tegak, menatap beberapa jenis bunga yang tumbuh subur di taman rumah sakit ini. Entah sudah berapa lama, mungkin sudah hampir satu jam.

Di belakangku, aku tahu kau tengah duduk sambil menatapku, aku bisa merasakan itu. Namun sejak tadi kau sama sepertiku, hanya diam.

Aku tak tahu harus berkata apa padamu, karena terlalu lama aku menjauh darimu hingga canggung hadir di dalam jiwaku saat ini. Seolah aku baru saja bertemu dengan seseorang yang  sekali pun belum pernah bertemu denganku.

Mengapa kau tak mengatakan sesuatu padaku? Marahkah kau padaku karena selama ini aku menghindarimu? Atau mungkin kau takut karena kau berpikir bahwa justru akulah yang marah padamu sehingga membuatku menjauh darimu?

“Kenapa, sejak tadi langitnya mendung terus ya?” Tanyamu tiba-tiba.

Aku melirikmu. Kulihat kau tengah menatap langit yang diselimuti gumpalan awan kelabu.

“Mendung terus, tapi kenapa nggak hujan-hujan ya?” Tanyamu lagi.

Aku tak menanggapi pertanyaanmu, karena aku tak tahu mesti berkata apa.

“Aku pengen deh, sekarang hujan turun. Rasanya udah lama banget nggak hujan-hujanan kaya dulu.”

Aku tetap diam.

Semenit berlalu, aku tak lagi mendengar ocehanmu. Bisu kembali menyelimuti kita.


                                                                                    ****

Juni 2014


Aku ingat kejadian sore itu, ketika langit mengutus gerimis untuk turun ke bumi. Hari dimana untuk pertama kalinya aku menolak permintaanmu. Hari dimana aku melihat ada yang beda darimu

“Steven!” Seseorang memanggilku, ketika aku hendak pergi ke ruang ganti. Aku enggan berhenti, karena kutahu itu pasti dirimu. Aku hafal betul suaramu.

“Stev! Tunggu.” Kudengar kau memanggilku lagi, memintaku untuk berhenti melangkah. Namun aku terus saja melangkah. Tiba-tiba sebuah ide datang di otakku. Segera kuambil headset dari dalam tasku, lalu kusumbat kedua kupingku dengan headset itu. Ujung headset itu kumasukkan ke dalam saku celanaku. Berlagak tengah mendengarkan musik, walau ujung headset itu tak kuhubungkan pada port handphoneku.

“Stev..!” Kupercepat langkahku, berharap kau menyerah dan berhenti memanggilku. Jujur, siang itu aku tak ingin bertemu denganmu. Aku ingin menjauh darimu.

“Stev…..ven. Tung….gu.” Kudengar suaramu terbata-bata, sepertinya kau terengah-engah. Entah kenapa mendengar suaramu seperti itu membuatku merasa khawatir. Segera kubalikkan badanku, mencoba memastikan keadaanmu.

Kulihat kau berdiri beberapa langkah cukup jauh di depanku. Namun dari tempatku, aku bisa melihat pergerakan dada dan perutmu. Aku tahu kau pasti terengah-engah. Aku ingin menghampirimu, tapi ada suatu bisikan di telingaku yang menyuruhku untuk tak mendekatimu. Aku diam di tempat, mematung sambil menatapmu.

Kulihat kau mengusap hidungmu berulang kali. Aku tak bisa terus berdiam diri mematung. Aku tahu keadaanmu kini sedang tidak baik-baik saja. Segera kuberlari kecil menghampirimu.

Ketika aku datang, kau masih sibuk mengusap hidungmu. Kulihat cairan berwarna merah hati terus mengalir dari lubang hidungmu. Kau berusaha untuk membersihkannya.

“Sa…, ka..kamu nggak papa?” Tanyaku iba. Mungkinkah ini salahku? Membiarkanmu berlari mengejarku. Membuat cairan itu mengalir.

Kau berhenti mengusap hidungmu. Kau tatap aku. Aku bisa melihat wajahmu begitu jelas. Saat itu, aku bertanya pada diriku, siapakah yang ada di hadapanku? Apakah yang ada di hadapanku adalah dirimu atau bukan? Karena aku merasa bahwa bukan dirimu yang tengah berdiri di hadapanku, melainkan sesosok mayat hidup. Ya, kau mirip mayat. Kulitmu lebih putih dari biasanya. Tatapanmu sayu. Bibirmu kering.

Kau tak berkata apapun, kau hanya menggeleng.

“Tadi kamu manggil aku?” Tanyaku bodoh.

Kau mengangguk.

“Maaf ya, aku nggak denger. Tadi lagi dengerin musik.” Ucapku bohong sambil melepas headset yang menyumbat kedua kupingku.

Kau mengangguk sambil menyunggingkan sebuah senyum manis. “Nggak papa kok.”

“Ada apa?”

“Mau latian basket ya? Selesai jam berapa?”

“Kamu nggak dijemput?”

Kau menggeleng “Mama sama Papa lagi ke Surabaya, nengok Kak Azriel. Terus, mobil yang satunya lagi masuk bengkel.”

Kupasang wajah penuh penyesalan “Yah, maaf Sa. Tapi aku nanti pulang maghrib. Kamu mau nunggu aku sampai maghrib?”

Ku lihat kekecewaan terpancar dari kedua bola matamu.

“Maaf ya Sa.”

“Iya, nggak papa kok. Ya udah kalau gitu, aku naik taksi aja. Eee, aku duluan ya.”

Kau segera membalikkan badanmu, melangkah menjauh dariku. Kutatap punggungmu hingga menjadi sebuah titik kecil tak kasat mata.

Kau tahu? Sore itu anak basket tengah menjadi pemain drama. Aku memang ada latihan basket, namun sejujurnya tak sampai maghrib, aku latihan basket hanya sampai jam setengah lima sore.

Maaf aku berbohong padamu. Namun sore itu entah kenapa rasanya aku enggan pulang bersamamu, dan aku enggan jika harus berdua denganmu.

Maaf tentang kejadian sore itu, karena kejadian sore itu adalah gerbang kebohonganku selanjutnya.

                                                                        ***

Januari 2013

Sadarkah kau? Tiap ada momen khusus dalam hidupmu, angkasa seolah telah merencanakan untuk mengutus rintik hujannya ke bumi. Seperti  suatu hari sepulang sekolah kau berteriak nyaring setelah membaca SMS yang awalnya aku tak tahu dari siapa.

“Apaan sih teriak-teriak?” Tanyaku sewot karena teriakanmu itu membuat telingaku serasa tuli secara tiba-tiba.

Kau mengacungkan telunjuk dan jari tengah kedua tanganmu sambil tersenyum lebar. “Maaf..” Ucapmu dengan wajah sumringah, bahkan setitik rasa bersalah pun tak kulihat di wajahmu.

“Aku seneng banget Stev.”

“Seneng banget, terus pake acara bikin telinga orang budek?”

“Maaf. Udah minta maaf juga, sewot banget sih.” Ucapmu kesal.

Aku diam, memasang wajah jengkel. Sesaat kemudian kau sodorkan ponsel cerdasmu ke depan wajahku.

From: Bu Maya

Ibu td ke Dinas penddikan

Kmu juara satu, maju ke provinsi

Begitu tulisan yang kubaca di layar ponselmu. Aku memandangmu tak percaya.

“Dari lima peserta?”

“Enak aja!” Kau memukul lengan kananku sedikit keras hingga berbunyi. “Nggak ngerti dari berapa peserta, yang aku ingat dari empat puluh satu sekolah.”

Dan, hari ini pun menjadi momen yang menurutku itu adalah momen besar untukmu. Hari ini Adit dengan malu-malu menyatakan perasaannya.

Kau tahu? Agatha, sahabatmu yang juga merupakan sepupu tak kukehendaki (ya, karena Tuhan tanpa meminta persetujuanku menakdirkanku memiliki sepupu selayaknya ibu tiri dalam kisah Cinderella sepertinya) Menakut-nakutiku.

“Hari ini Adit mau nembak Lissa. Lo udah tahu?” Tanyanya datar.

“Ya udah lah, orang dia temen gue.”

“Terus?”

“Terus? Maksudnya?”

“Ya terus lo gimana? Ngebiarin aja Lissa ditembak Adit?”

“Ya iyalah. Masa gue mau nglarang Adit nembak Lissa?”

“Lo nggak papa?”

“Ya nggak papa.”

Agatha memasang wajah putus asa “Kok lo nggak ada ekspresi apa-apa sih? Masa gitu? Lissa mau ditembak Adit kok lo tenang-tenang aja?”

Aku tertawa geli. “Oh, maksud lo, gue suruh panik gitu. Suruh panas, suruh was-was kaya lo gitu? Suruh berlebay-lebay ria?”

“Ya iyalah, dimana-mana kalau gebetan kita mau diambil orang jelas kita khawatir.”

“Santai aja lah. Selama ini siapa sih yang pernah diterima Lissa? Lagian lo sendiri kan yang bilang kalau Lissa itu Royal Princess. Like a diamond, Cuma orang-orang yang bener-bener mampu aja yang bisa jadi pacarnya. Jadi, santai aja lah.”

“Iya, emang bener. Tapi, gimana kalau kali ini dia nerima Adit?”

“Ya, berarti gue harus turut berbahagia karena sahabat gue jadian sama sahabat kecil gue.” Ucapku sambil tersenyum santai.

Kau tahu, aku selalu memasang wajah riang dan santai di hadapan Agatha dan aku selalu sukses membuatnya percaya bahwa aku baik-baik saja, walau kenyatannya aku tak begitu. Kenyataannya aku selalu khawatir bila ada seseorang yang menyatakan perasannya padamu.

Jujur, siang tadi aku begitu khawatir. Aku takut jika kau juga memiliki rasa yang sama dengan Adit. Karena sama dengan anak-anak yang lain, menurutku kau dan dia begitu serasi. Menurutku, kau dan dia begitu dekat. Dan aku selalu melihat kau selalu tertawa bahagia saat dia ada di dekatmu.

Namun sepertinya Cupid siang tadi batal untuk datang ke taman sekolah, hadir di antara kau dan Adit. Karena siang tadi langit nampak pucat, matahari bersembunyi malu-malu dibalik kelabunya awan. Meski di sekolah tadi hujan belum turun, mungkin di rumah Cupid, hujan sudah turun dengan lebat, sehingga ia enggan datang untuk memanah hatimu untuk Adit.

Tak perlu berbohong, tentu aku senang ketika kau mengatakan. “Di luar sana, ada yang jauh lebih baik dari aku yang aku yakin juga memiliki rasa yang sama dengan yang kamu rasakan.”

Tapi aku ingin tertawa jika harus berkata jujur tentang perasaanku. Aku senang, namun aku merasa kasihan pada Adit. Ya, kau tahu kan dia sahabatku? Sangat kejam rasanya jika aku harus tertawa bahagia ketika Royal Princess sepertimu tak memiliki rasa yang sama dengan apa yang ia rasakan. Namun, kenyataannya aku memang bahagia ketika aku tahu hal itu. Ah, aku memah sahabat yang kejam.

Kau tahu? Tuhan adalah sutradara yang sangat pandai membuat sebuah drama kehidupan. Ketika kau mengatakan hal itu, mendadak saja gerimis turun. Lucu, itu menurutku. Adit tak menangis, namun kutahu hatinya menangis, dan langit mewakili tetesan air matanya dengan air hujan.

                                                                                    ***

Maret 2013

Pagi ini aku dan yang lain begitu menanti kehadiranmu. Tiga hari kau tak hadir di antara kami, demi mengharumkan nama sekolah bersama grup orchestra sekolah. Kami sangat ingin mendengar pengalamanmu selama tiga hari di luar kota. Kami ingin tahu apakah kau dan anak-anak orchestra lainnya pulang membawa kemenangan atau tidak.

Jam menunjukkan pukul 06:50 tapi kau belum juga muncul di hadapanku dan yang lainnya, hingga bel tanda pelajaran pertama dimulai kau belum juga muncul di hadapan kami.

Sepuluh menit berlalu, ketika guru berwajah Eropa dengan mata sipit seperti orang Jepang itu mengabsen kami, tiba-tiba saja pintu kelas yang tadinya tertutup rapat secara perlahan terbuka. Sesosok gadis berambut panjang yang acak-acakan muncul dari balik pintu, gadis itu adalah kau.

Kau melangkah mendekati guru itu sambil merapikan dirimu. Penampilanmu tak seperti anak lainnya. Kau layaknya seorang atlet yang baru saja selesai mengikuti lomba maraton.

“Maaf Pak, saya terlambat.” Ucapmu tanpa memandang guru itu. Entah mengapa kau menundukkan wajahmu, tak memandang guru itu. Mungkin, saat itu kau berpikir bahwa yang ada di hadapanmu adalah Pak Eros, maka kau merasa takut lalu menundukkan wajahmu.

Kau salah, guru itu bukan Pak Eros, melainkan Kak David. Guru paling cakep dan kece menurut sahabat-sahabat perempuanmu, dan tak bisa kupungkiri, menurutku juga begitu, guru itu tampan dan keren bahkan menurut semua anak laki-laki di kelas kita, guru itu memang tampan dan keren.

Guru itu memandangmu dalam diam. Ia menatapmu lekat, entah mengapa guru itu tak berkata apapun. Perlahan kau mengangkat wajahmu, mungkin saat itu kau kebingungan mengapa Kak David yang kau kira Pak Eros tak berkata apapun dan tak memarahimu.

“Lissa?” Ucap guru itu ragu ketika kau telah mengangkat wajahmu.

Kulihat ada rasa kaget yang terpancar dari kedua matamu, dan pada wajah Kak David pun juga begitu. Kalian saling diam beberapa detik, tak sampai satu menit. Jika apa yang kau alami adalah sebuah sinetron atau film, mungkin benda-benda dan orang lain di sekitar kalian menjadi blur. Lalu terdengar music tegang atau menye-menye. Namun kenyataannya tak begitu, karena kejadian itu bukanlah sinetron ataupun film.

Kau segera menundukkan wajahmu lagi. Entah itu hanya perasaanku atau bukan, kurasa kau begitu ketakuatan dan tak ingin menatap wajahnya.

“Ee..saya boleh duduk?” Tanyamu sedikit terbata.

Kak David mengedipkan kedua matanya, dengan kikuk dia menjawab. “E, eh, iya. Boleh, silahkan duduk aja.”

Kau berjalan cepat munuju bangkumu, seolah kau menghindari cowok itu.

Kenapa Lissa kaya kaget gitu ya? Kaya udah pernah ketemu Kak David, apa emang pernah ketemu, atau mungkin mereka saling kenal? Batinku bertanya.

                                                            ***

September 2013

Kemarin sore di rumahku, seperti biasa aku dan kamu mengerjakan pekerjaan rumah. Kali ini tak tahu kenapa kau yang meminta untuk datang ke rumahku. Padahal hari itu aku sedang tak membutuhkan bantuanku, dan kurasa kau tak pernah minta bantuanku untuk mengerjakan pekerjaan rumah karena mungkin kau sadar bahwa aku terlalu bodoh untuk membantu anak secerdas dirimu menyelesaikan pekerjaan rumah.

Ada yang beda darimu. Kau tampak tak bersemangat. Sebisa mungkin kucoba untuk bersikap  biasa dan menceritakan berbagai hal padamu agar kau tersenyum. Ya, kau memang tersenyum, namun kutahu senyummu itu bukan senyum yang biasanya kau berikan untuk orang-orang di sekitarmu. Senyummu adalah sebuah senyum simpul yang relatif sepat bak pisang belum matang. Bukan senyum masam yang menyegarkan yang dimiliki oleh jeruk nipis, senyummu sepat, menggelikan di lidah.

Aku menyerah. Lalu suasana selayaknya lagu milik Jamrud yang berjudul Pelangi di Matamu pun terjadi. Tiga puluh menit aku dan kamu saling diam dan membisu. Hingga akhirnya aku berusaha memancingmu agar kau mau menceritakan hal yang kuduga telah membuncah di dalam benakmu.

Memancingmu bicara seperti memancing ikan hiu dengan pancingan ikan lele. Rambutku serasa memutih, gigiku mulai ompong, dan aku pun mulai terbungkuk demi menunggumu bicara.

Puji Tuhan Pekikku dalam hati ketika kau mulai membuka suara.

Saat kita sampai pada pertengahan ceritamu menuju klimaks. Tuhan mengagetkanku dengan suara petir, aku berteriak bak anak perempuan, dan kau…Kau diam dan memasang wajah datar. Rasanya saat itu jiwaku dan jiwamu tertukar. Bukankah seharusnya aku yang santai sepertimu dan kau yang menjerit kaget selayaknya mahluk bernama hawa pada umumnya?—berteriak lebay.

Aku terus mendengarkan ceritamu. Ya terus mendengarkannya, hingga akhirnya kutahu siapa tokoh utama selain dirimu dalam ceritamu.

Kagetku ketika mendengar nama itu melebihi kagetku ketika mendengarkan suara petir tadi. Di akhir ceritamu kau hanya diam, dan aku tak bisa menanggapinya, aku tak bisa berkata apa-apa, atau lebih tepatnya aku tak berani berkata apapun.

Sore itu aku jadi tahu, apa alasanmu mempertahankan kesendirianmu dan menolak banyak Royal Prince yang berusaha untuk memilikimu.

Aku biarkan kau diam. Ya…ya, dan akhirnya lagu Jamrud itu terjadi lagi untuk yang kedua kalinya.

Aku menatapmu iba. Wajahmu sendu, tapi kulihat matamu memerah. Kutahu kantung matamu sudah penuh dengan air mata. Mengapa tak kau teteskan saja?

Seolah terhipnotis, tanpa sadar tangan kananku menggenggam tangan kananmu. Aku sedikit geli melihat perbedaan kulitku dan kulitmu, bagaikan susu vanilla dan susu cokelat. Tentu milikku lah yang menjadi susu coklat.

“Nangis aja Sa, jangan ditahan.” Ucapku sambil menatapmu sendu.

Kau mengatupkan kedua kelopak matamu, dan saat itu juga aliran sungai terbentuk di kedua pipimu, bersamaan dengan langit yang juga menangis.

                                                                                    ***

Aku takut, setelah aku mendengar ceritamu. Kini Royal Princess telah bertemu dengan Royal Princenya. Aku selalu berusaha meyakinkan diriku

Tenang Stev, Lissa kan masih marah sama Kak David. Lissa kan udah bilang kalau sepertinya dia nggak akan nerima Kak David lagi. Lo nggak perlu khawatir

Itu yang selalu kukatakan pada diriku. Aku berusaha untuk tenang dan tak terlalu khawatir, tapi tetap saja aku selalu takut. Terlebih ketika pelajaran musik, di mana aku selalu melihat Kak David memberikan pandangan yang berbeda untukmu tak seperti pandangan yang ia berikan untukku dan anak-anak lainnya.

                                                ***

Oktober 2013

Tadi sore seusai rapat tim jurnalistik, gerimis mengiringi tiap langkahku menyusuri koridor sekolah. Hatiku tak sekelabu awan sore tadi, aku merasa begitu bersemangat untuk pulang. Itu karena aku berharap kau tengah menunggu jemputanmu, sehingga aku dan kamu bisa menunggu jemputan bersama, karena kutahu saat itu kau tengah latihan bersama tim orchestra.

Langkahku kupercepat, ketika kulihat kau tengah berdiri seorang diri beberapa meter di hadapanku. Namun mendadak langkahku terhenti, rasanya kakiku kaku ketika kulihat Kak David tengah menghampirimu dari arah yang berlawanan denganku.

Kulihat Kak David mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya, lalu ia mulai mengusap hidungmu. Bisa ditebak, benda itu adalah sapu tangan atau tisu lalu dia membersihkan darah yang mengalir dari hidungmu.

Oh, betapa perhatiannya dia, bahkan semenjak pertama kali aku tahu ada yang tak beres darimu, aku tak pernah berani untuk mengusap darah yang mengalir dari lubang hidungmu. Bahkan aku pun tak pernah melihat Agatha, Zahra dan Azizah mebersihkan darah itu.

Brengsek!

Kalian layaknya William dan Kate Middleton.

Kau tahu? Benda kecil dalam diriku yang sering kusebut hati ini terasa perih. Rasanya aku terserang penyakit Hepatitis B. Sakit sekali, meski aku tak pernah tahu bagaimana rasa sakit jika mengidap penyakit itu.

                                                                        ***

Februari 2014

Apakah kau ingat di sore itu, hari dimana kau memanggil-manggil namaku namun aku tak menghiraukanmu, hingga akhirnya kau terengah-engah dan membuat cairan merah itu mengalir dari kedua lubang hidungmu? Lalu aku mendekatimu dan berkata

“Maaf ya, aku nggak denger. Tadi lagi dengerin musik.”

Tahu kah kau jika aku berbohong? Sadarkah kau jika aku menghindarimu? Maaf, sore itu aku harus bersandiwara karena aku tak ingin bersamamu.

Kau harus tahu, jika aku terus bersamamu, maka aku harus menerima kenyataan bahwa kau dan Kak David adalah pasangan serasi. Sebuah kenyataan yang dengan terpaksa harus ku terima.

                                                                        ***

Maret 2014

Agatha mengatakan padaku bahwa kau mengira aku marah padamu karena aku selalu menghindar. Lalu ia mengatakan bahwa aku harus menghentikan semua ini.

Jujur, aku ingin menghentikannya, tiga bulan menjauh darimu rasanya ada yang aneh dalam hari-hariku. Sungguh, aku ingin kembali dekat denganmu. Namun keinginan itu selalu saja hilang bila aku melihat mu dan Kak David pulang bersama, terlebih dikala hujan turun.

                                                            ***

Agustus 2014

Hari ini kau masuk rumah sakit. Aku segera menuju ke sana begitu mendengar kabar itu. Setibanya di rumah sakit ku lihat Papa, Mama dan Kak Eizel tengah menunggu di koridor rumah sakit. Di sana juga ada Agatha dan Azizah juga…Kak David.

Brengsek! Kenapa ia sudah berada di rumah sakit? Kenapa dia tiba lebih dahulu dibandingkan denganku? Tidak..tidak, bukan masalah siapa yang datang duluan, namun masalahnya adalah mengapa aku harus berada di rumah sakit bersamanya?

                                                            ***

April 2015

Aku senang kau sudah sadarkan diri dari tidur panjangmu semenjak bulan Agustus tahun lalu. Ingin rasanya aku menjengukmu, namun ada bisikan yang mengatakan agar aku membatalkan niatku. Bisikan itu mengatakan bahwa tentu ada Kak David di sisimu, maka kuurungkan niatku.

Aku tidak benci Kak David, namun aku hanya tak ingin kalian tahu bahwa aku selalu salah tingkah jika hadir di antara kalian berdua.

                                                            ***

Plakkk

Panas! Sebuah tamparan keras dari Agatha mendarat di pipi kananku. Membuat pipiku menjadi lebih hangat dari anggota tubuhku yang lain.

 “Udah berapa kali gue memohon ke lo supaya lo dateng buat jenguk dia? Udah berapa kali gue minta ke lo buat muncul di hadapan dia walau cuma sepuluh menit aja Stev?” Tanya cewek bermata sipit itu sambil menatapku lekat. Tatapannya seperti serigala yang sudah dua malam belum makan yang tengah mengintai seeokor anak kijang yang baru lahir.

Aku diam sambil mengelus pipiku yang masih terasa panas.

“Sekali aja Stev, gue mohon banget. Sekali aja muncul di hadapannya. Apa lo nggak pengen ketemu sama dia?”

Aku masih diam. Kedua bola mataku menatap ke luar kafe dari balik jendela kaca ini. Di luar sana, orang-orang berlari kecil mencari tempat berteduh. Mereka yang mengendarai sepeda bermotor berhenti di bawah pohon untuk mengenakan mantel. Rintik hujan semakin deras.

“Stev, lo bisa ketemuan sama dia di suatu tempat yang hanya ada lo dan dia. Nggak ada orang lain, dan tentunya nggak ada Kak David.”

Aku tetap diam. Kedua bola mataku masih menatap jalan raya.

“Nggak ada yang tahu berapa lama lagi dia masih bisa hadir di dalam hari-hari kita. Gue mohon Stev”

Ku dengar Agatha mulai terisak.

                                                                        ***

Juli 2015

“Steven..” Kudengar suaramu dari arah kiri.

Kuputar badanku, kudapati dirimu tengah berdiri di hadapanku sambil tersenyum manis.

Aku menatapmu dengan datar.

Kau segera menundukkan wajahmu, lalu menggigit bibir atasmu. Kau tatap tanah. Entah apa yang kau tatap. Mungkin kakimu, bebatuan atau mungkin kakiku.

“Oh ya, aku mau ngasih ini ke kamu.” Kau sodorkan sebuah buku padaku.

Mataku bertanya “ini apa?”

“Itu, hasil hunting foto kita selama ini. Tiga minggu yang lalu, aku iseng aja lihat-lihat hasil hunting kita, dan tiba-tiba aja muncul ide buat nyetak itu dan dijadiin album. “ Jawabmu seolah kau bisa membaca pertanyaan tak terucap dari kedua bola mataku.

Kedua bibirku mengerucut. Kuanggukkan kepalaku sambil menatap buku tadi. Sejujurnya kedua mataku ingin menatapmu, namun hatiku enggan melakukannya.

Kulihat kau mengepalkan kedua tanganmu. Kau gigit bibir bawahmu. Kau kernyitkan keningmu, kedua alismu bertaut.

Aku yakin pasti kau kesal dengan sikap diamku. Maaf jika sikapku membuatmu kesal, namun aku benar-benar merasa canggung.

“Ada yang mau diomongin lagi nggak?” Tanyaku tiba-tiba.

Bodoh! Ya Tuhan, mengapa aku melontarkan pertanyaan seperti itu padamu? Pertanyaan itu sama saja dengan kalimat “Udah nggak ada yang mau diomongin lagi kan? Kalau nggak ada gue mau pergi.”

Kau menatapku dengan mimic wajah kaget, kau terlihat gelagapan. “E..eng..nggak ada kok. Udah, cuma mau kasih itu ke Steven.” Ucapmu kikuk.

Kau segera membuang pandanganmu.

Lima menit berlalu. Segurat cahaya panjang berbentuk zig-zag tampak di langit pucat, sedikit menggantikan peran sinar sang mentari untuk menerangi pucatnya langit.

“E..Kamu pasti banyak acara ya? Maaf ya kalau udah ngebuang waktumu. Aku cuma mau kasih itu aja kok.” Ucapmu terbata-bata

Kau menyingkap beberapa helai rambut yang menutupi wajahmu, menaruhnya di belakang kuping kananmu.

Kudengar napasmu terengah-engah, begitu jelas seperti suara kucing yang sedang tidur. Mau tak mau, aku terpaksa memandang wajahmu. Kulihat darah mengalir dari kedua hidungmu.

Aku tak memberikan titah pada tangan kananku, tanpa izin dariku tangan kananku segera membersihkan darah itu. Kau terhenyak, segera menyingkirkan tanganku dengan lembut.

“Hidung kamu berdarah Sa.” Ucapku lirih, aku khawatir.

“Eh..nggak papa kok.” Kau segera membersihkan darah itu.

“Sa, aku antar ke kamar ya?”

“Eh, nggak usah. A..Aku ke kamar sendiri aja.” Kau segera membalikkan badanmu sehingga memunggungiku, namun sesaat kemudian kau kembali membalikkan badanmu, hingga berhadapan denganku,

“Aku ke kamar dulu.” Ucapmu lalu menarik napas dalam.  “Maaf, kalau selama ini udah bikin Steven kesel.”

Dadamu kembang kempis. Aku yang hanya melihatmu merasa tersiksa, bagaiaman denganmu yang mengalami susahnya bernapas?

 “Sa, biar aku antar ke kamar.” Ucapku sambil meraih pergelangan tanganmu, menghentikan langkahmu.

Kau menggeleng. Wajahmu sama dengan sore itu, pucat sepeti mayat hidup. Kulit tanganmu sedingin es batu. Bibirmu kering.

“Aku bisa sendiri.” Ucapmu nyaris tak terdengar

Kau berusaha menepis tanganku, namun tak berhasil. Bukan genggamanku yang terlalu erat, namun tepisanmu kurasa tanpa kekuatan.

Kau mengusap hidungmu lagi. Sungguh, aku tak akan membiarkanmu menuju kamar rawatmu seorang diri.

“Sa, ayo aku antar ke kamarmu.”

Kau menggeleng. Dadamu kembang kempis, kau pejamkan kedua matamu. Ada sebuah garis berwarna lebih tua dari warna kulitmu di kedua pipimu. Kau mengusap garis itu, membuatnya tampak samar.

“Sa…”

Kau mulai terisak. Kau pandang aku lekat, aku balas memandangmu lekat. Air bening kembali mengalir dari kedua matamu.

Aku menatapmu lembut. Ingin rasanya kuhapus air matamu, namun pergerakan tanganku tertahan.

Kau memandangku sayu lalu dengan sekali gerakan kau rangkulkan kedua tanganmu pada tengkukku. Aku terenyak, lagi.

Isakanmu semakin jelas, dicampur dengan suara napasmu yang semakin tak beraturan.

“Kemana aja selama ini?” Tanyamu sesenggukan.

“Jangan pergi lagi. Aku minta maaf kalau udah bikin kamu marah.”

Lissa, kau tahu? Aku tak pernah marah padamu, aku hanya marah pada perasaanku. Mengapa harus ada sakit yang kurasa? Ah, aku benci perasaan itu.

“Iya, aku nggak akan pergi lagi.” Ucapku sambil mengusap rambut hitammu dengan lembut.

“ Aku sayang sama kamu. Jangan pergi.”

 “Aku juga sayang kamu. Sayang banget..” Ucapku lirih, dan…perih.

Gerimis perlahan turun. Kau masih terisak. Kau tahu? Aku bersyukur hujan mulai turun, karena tanpa kau sadari aku menangis.

Menangis karena akhirnya aku bisa mengucapkan kata itu padamu. Menangis karena aku tahu sayangmu padaku sama dengan rasa sayangmu untuk Adit, Vano, Agatha dan sahabatmu yang lainnya. Menangis karena aku yakin bahwa memang rasa sayangmu untukku tak sama denga rasa sayangku untukmu, karena saat ini, di hadapanku, Kak David tengah berdiri sambil membawa payung. Aku yakin kau menyadari kehadirannya. Dan aku yakin Kak David mendengar kau mengucapkan kata sayang padaku.



Selesai di Wonosobo, Selasa 24 Juni 2014 06:30 WIB

Every once in a while I run across a story that is so wonderful and beautiful that I just have to share it with everyone that I can. Such was the case when I read the blog posted on "Project Fit America." I have posted the link here, learning how to dance in the rain, for your easy access.

This story of Steve and Cyndee Cox is a love story for the ages. Its span has covered more than 45 years and bouts with five different kinds of cancer in virtually every part of Cyndee's body. This couple met on a blind date which occurred while Cyndee was recovering from Hodgkin's lymphoma with which she was first diagnosed at the age of 18. And after all these years and all that they have gone through during that time, these two amazing people are still standing side by side in their undying love for each other.

I have met so many cancer survivors who when diagnosed found themselves standing alone. Their spouses and other friends and family members disappeared into the sunset when it came time to provide help and support to those that they knew who were cancer victims. Many women who had to have surgeries that left the scars of their battles on their bodies found that their husbands could not deal with their "deformities." Many friends indicated that they ran because they didn't know what to do or say. And even many family members were way to busy with their own lives and families to have time to "deal with" someone else's problems.

I can't begin to image what Cyndee has had to endure. I know of my own experiences being a two-time breast cancer survivor and I feel like I had it so easy. But, for me, the most important factor was the support of my husband who would do anything to make my life as easy and comfortable as possible and I have the feeling that Steve did the same for Cyndee. And if you took the opportunity to read Cyndee's story, I am sure that you were equally moved by this woman and the strength and courage that she has needed in order to overcome so much.

In reading this story, there is also a most wonderful message included that I hope that I will always remember when times get a bit tough. In describing Cyndee's life, the author wrote:

"It is a life of survival: about not waiting for the storm to pass, but learning to dance in the rain."

What a perspective! What a reminder that we all have a choice to make when times of trouble and hardship and illness come our way. I hope that I never forget this great message and even more importantly, I really hope that I have "learned how to dance in the rain."